Sejarah Sastra Pada Masa Hindu - Budha
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sejarah merupakan topik ilmu pengetahuan
yang sangat menarik sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting. Kita
dapat mempelajari apa saja yang mempengaruhi kemajuan dan kejatuhan pada masa
itu. Sejarah adalah warisan nenek moyang yang sangat kental akan nilai-nilai
tradisi di dalam perkembangannya.
Budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan
dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit,
termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian,
bangunan, dan karya seni.
Kata kebudayaan berasal dari kata budh
dalam bahasa Sansekerta yang berarti akal, kemudian menjadi kata budhi
(tunggal) atau budhaya (majemuk), sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil
pemikiran atau akal manusia.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa pengertian sastra pada masa perkembangan
Hindu Buddha?
2. Bagaimana sejarah Ramayana?
3. Bagaimana sejarah Mahabharata?
4. Bagaimana
kilas singkat sejarah sastra melayu?
5. Bagaimana
pengaruh Hindu dalam kesusastraan melayu?
6. Bagaimana
pengaruh Hindu-Buddha dalam bidang kesusastraan?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian sastra pada masa perkembangan Hindu Buddha?
2. Untuk
mengetahui bagaimana sejarah Ramayana?
3. Untuk
mengetahui bagaimana sejarah Mahabharata?
4. Untuk
mengetahui bagaimana kilas singkat sejarah sastra melayu?
5. Untuk
mengetahui bagaimana pengaruh Hindu dalam kesusastraan melayu?
6. Untuk
mengetahui bagaimana pengaruh Hindu-Buddha dalam bidang kesusastraan?
D.
Manfaat
Mampu membedakan karya
sastra pada masa perkembangan Hindu Buddha dan sejarahnya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Karya Sastra
Pada Masa Perkembangan Hindu Buddha
Perkembangan pengaruh Hindu Buddha dari India membawa
kemajuan pesat dalam bidang karya sastra. Karya sastra terkenal yang mereka
bawa, antara lain kitab Ramayana dan Mahabharata. Adanya kitab-kitab ini memacu
para pujangga di Indonesia untuk menghasilkan karya-karya sastra.
Isi kitab bukan merupakan kalimat langsung, melainkan
rangkaian puisi yang indah dalam sejumlah bait (pupuh). Ungkapan dalam bentuk
puisi itu biasa disebut kahkawin. Sedangkan tema kitab dapat berupa gubahan
atau karya baru yang disesuaikan dengan tradisi dan budaya masyarakat. Karya
sastra merupakan catatan, kisah atau laporan tentang suatu peristiwa penting,
bisa mitologi atau sejarah.
a. Kitab
Kitab merupakan tulisan berupa
kisah, cerita, sejarah, dan kadang campuran antara legenda-mitos-sejarah
sekaligus. Pada masa Hindu-Buddha, kitab ditulis oleh para pujangga (sastrawan)
istana raja tertentu. Mereka menulis atas perintah raja masing-masing. Hidup
mereka ditanggung oleh negara dan mereka harus menaati apa saja yang harus
ditulis atas perintah raja. Oleh karena itu, bisa saja dua kitab yang ditulis
oleh dua penulis yang berbeda, membahas tokoh yang sama namun isinya bertolak
belakang.
Ada pula kitab yang ditulis pada
masa yang berbeda dengan apa yang dibahasnya. Bisa saja sebuah kitab menulis
peristiwa sejarah yang telah berlalu satu abad, misalnya. Dengan demikian, peristiwa
yang dilukiskannya bisa saja tak persis dengan apa yang terjadi sesungguhnya.
Sumber cerita mungkin saja diterima dari orang atau raja yang menyimpan
maksud-maksud politis tertentu; jadi pendapatnya sepihak dan tidak ilmiah.
Kitab biasanya ditulis pada lembaran daun rontal atau lontar yang diikatkan
dengan semacam tali agar tidak berceceran. Lontar adalah sejenis tumbuhan yang
tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia dan daerah subtropis. Tingginya
kurang-lebih 30 meter dan bewarna kuning dan tumbuh di hutan yang selalu
tergenang air. Kayunya bisa dipakai untuk bahan membuat rumah.
Isi kitab biasanya merupakan
rangkaian puisi dalam sejumlah bait (pupuh) yang disebut kakawin.
Selain cerita tentang raja-raja, kitab bisa pula menceritakan mitologi, legenda,
cerita rakyat (folklore), undang-undang, hukum pidana-perdata, hingga
aturan pernikahan. Di berbagai daerah di Indonesia kitab disebut pula kidung,
carita, kakawin, serat, tambo. Bisa pula kitab merupakan sebuah gubahan
dari cerita aslinya; dalam arti cerita tersebut sudah mengalami perubahan
(tambahan atau pengurangan), baik dalam jumlah tokoh, alur, latar tempat.
Mengenai waktu pun sering tak dicantumkan alias diabaikan oleh sang penulis
kitab meski yang ditulisnya mengandung sifat kesejarahan. Pembuatan kitab
pertama kali dirintis pada masa Dinasti Isana pemerintahan Dharmawangsa
Teguh. Ia mempelopori penggubahan epik Mahabharata dalam bahasa Kawi
(Jawa Kuno). Arjuna Wiwaha, karya Mpu Kanwa ditulis pada masa
pemerintahan Raja Airlangga abad ke-11 M. Bharatayudha karya Mpu
Sedah dan Mpu Panuluh, ditulis pada pemerintahan Raja Jayabaya dari
Kediri pada abad ke-12.
B.
Ramayana
Ramayana
adalah epos India yang terkenal. Ramayana adalah
kavya, yaitu puisi yang dipakai untuk memberi ajaran moral kepada para
muda-mudi. Ajaran yang diberikan luas sekali; ia meliputi darmasastra (ajaran moral); arthasastra
(ajaran politik dan peperangan) dan nitisastra
(ajaran tentang cara hidup yang mudah). Bukan itu saja. Ramayana juga
merupakan cermin hidup orang Arya yang idealis. Rama adalah lambang anak yang
taat, saudara yang ramah, suami yang penuh kasih sayang. Rama juga merupakan
lambang kesatria yang gagah berani dan raja yang adil dan idealis. Sita adalah
lambang istri yang setia. Saudara-saudara Rama, semuanya adalah lambang saudara
yang dicita-citakan manusia. Sedangkan Dasarata adalah lambang manusia yang
lemah, yang tidak dapat menahan godaan wanita.
Ramayana sebenarnya adalah cerita rakyat
India yang sangat populer dan tua sekali. Dalam Mahabharata, cerita Rama diceritakan dalam Ramopakhyana. Di samping Ramayana Valmiki, di India sebenarnya
masih ada tiga Ramayana yang lain yaitu (i) Yoga-Vasistha-Ramayana,
(ii) Adhiyat-Ramayana dan (iii) Adbhuta-Ramayana. Yang menarik ialah
Adbhuta-Ramayana. Adhbuta-Ramayana ini dapat menjelaskan beberapa perkara yang
kurang jelas tentang cerita Rama, misalnya asal-usul Sita dan bagaimana Rama
dianggap sebagai penjelmaan Wisnu seperti yang terdapat dalam beberapa versi.
Pengaruh Ramayana besar sekali. Ramayana
pernah menjadi sumber yang tak pernah kering bagi para penyair dan
sastrawan India. Pada abad ke-4 seorang penyair agung yang bernama Kalidasa
sudah mengolah cerita Rama kembali dalam suatu syair bernama Raghuwansa. Pada abad ke-6 penyair Bhatti mengolah cerita Rama kembali
pada syair yang bernama Rawana-Vadha (artinya
pembunuhan Rawana). Syair ini juga terkenal sebagai Bhatti-khavya. Menurut seorang sarjana Indonesia Poerbatjaraka.
Ravana-Vadha inilah yang menjadi sumber Kahwin
Ramayana dan bukan Ramayana Valmiki.
Ketika agama Buddha muncul di India,
cerita Ramayana disusun kembali menurut ajaran Buddha. Itulah Dasarata Jataka.
Episod-episod ini banyak yang diambil dari Ramayana
Valmiki. Rama dianggap Bodhi-sattva. Sita adalah adik perempuan Rama, tapi
kemudian kahwin dengan Rama. Penculikan Sita dan peristiwa-peristiwa yang
terjadi sesudah penculikan Sita tidak terdapat di dalamnya.
Agama
Jaina juga menyesuaikan cerita Ramayana kepada ajarannya. Rama adalah
Baladewa yang kedelapan. Sesudah membunuh Prativasu-dewa, yaitu Rawana,
Baladewa jatuh ke dalam neraka. Ia sangat menyesali perbuatannya (membunuh
Rawana) dan menjadi pendita untuk mencapai moksa, karena ajaran ahimsa yang
melarang membunuh. Baladewa juga tidak pernah berburu. Rawana dan lain-lain
makhluk juga tidak makan daging.
Betapa mulia dan sucinya Rama di mata
orang Hindhu juga dapat diketahui dari cerita berikut:
Pada suatu hari seorang tukang sapu yang
hina berteriak dalam kesakitan. Teriakannya terdengar oleh Hanuman. Hanuman
marah: tak pantas orang yang hina menyebut-nyebut nama tuannya, lalu
ditendangnya tukang sapu itu. Pada sore hari, ketika ia mengunjungi tuannya,
didapati tuannya luka di dada. Hanuman keheranan. Rama lalu berkata: tahukah
engkau, bahwa tiap-tiap perbuatanmu kepada anakku, anakku yang hina sekalipun,
akan terkena aku juga.
·
Ringkasan
Ramayana
Dasarata, raja Ayodhya dari Kusala tidak
mempunyai putera. Karena itu ia mengadakan suatu korban kuda untuk meminta
putera dari dewa-dewa. Waktu korban kuda diadakan para dewa juga berunding di
kayangan. Para dewa mengadu kepada Brahma bahwa mereka sering di ganggu oleh
Rawana yang tak dapat dibinasakan oleh dewa. Brahma berkata hanyalah manusia
yang dapat membunuh Rawana. Pada masa itu Wisnu pun datanglah dan para dewa pun
meminta Wisnu menjelma menjadi manusia untuk membunuh Rawana.
Pada suatu hari, waktu itu sudah genap
16 tahun umur Rama, datanglah seorang pertapa Wismamitra kepada raja Dasarata.
Pertapa itu meminta Rama menolongnya membunuh raksasa-raksasa yang menganggu
pertapaan mereka. Rama dan Laksamana pun pergi ke tempat pertapaan Wismamitra.
Dalam perjalanan pulang, mereka singgah di istana Janaka, raja Wedeha. Pada
massa itu, Raja Janaka sedang mengadakan semacam sayembara: barangsiapa yang dapat melentur busur panah yang besar
itu akan diterima menjadi suami Sita. Sita adalah puteri Janaka yang muncul di
antara alur bajak ketika Janaka sedang membajak tanah. Banyaklah sudah
raja-raja dan perwira yang perkasa cuba melentur busur panah itu tetapi
jangankan melentur, mengangkat pun tak dapat. Dengan demikian Rama pun diterima
menjadi suami Sita. Perayaan perkawinan besar-besaran pun diadakan.
Sesudah beberapa tahun, Dasarata merasa
dirinya sudah tua dan malu menyerahkan kerajaan pada Rama. Rama yang tertua dan
terbaik dan paling perkasa dari anak-anak Dasarata. Semua rakyat gembira.
Persiapan pertabalan Rama dijalankan siang dan malam. Dayang itu mendesak
supaya Kaikeyi memajukan kehendaknya: pertama, Rama dibuang kehutan selama 14
tahun: kedua, Bharata ditabalkan menjadi raja. Akhirnya tunduk juga Kaikeyi di
bawa hasutan dayangnya dan memajukan permintaan itu kepada Dasarata.
Rama keheranan melihat kesedihan
ayahnya. Kaikeyilah yang memberitahu Rama apa yang sudah berlaku. Seluruh
Negeri diliputi oleh suasana kesedihan Dasaratalah yang paling sedih. Rama
berpindah ke hutan kedalaman, yaitu hutan dandaka. Suparnaka, adik perempuan
Rawana jatuh cinta pada Rama. Rama menolak cintanya. Diceritakan juga tentang
kecantikan Sita: bahwa barangsiapa yang memiliki Sita ia akan menguasai dunia.
Akhirnya hati Rawana tergerak juga untuk merampas Sita. Rawana segera meminta
bantuan kepada seorang sakti Marica yang dapat menjelmakan dirinya menjadi
bermacam-macam binatang. Marica merupakan dirinya menjadi seeokor kijang emas
yang sangat indah warnanya.
“Sita, Laksamana, Sita, Laksamana! Suara
itu seperti suara Rama.
Sita mendesak Laksamana pergi menolong
Rama. Laksamana menolak: dia mencurigai suara itu, masakan Rama tak kuasa
melawan seekor kijang. Tetapi Sita mendesak juga, sampai menuduh Laksamana
bahwa ia (Laksamana) inginkan dia (Sita): sebab itulah ia (Laksamana) tak mau
pergi menolong Rama. Akhirnya terpaksalah Laksamana pergi mencari Rama.
Sepeninggalan Laksamana Rawana mendekati Sita sebagai seorang pertapa dan
meminta Sita menjadi isterinya. Ketika Rama dan Laksamana kembali, didapatinya
Sita sudah tidak ada lagi. Rama dan Laksamana menuju kelangka ditengah jalan,
Ke Badha namanya. Ke Badha sangat berterimakasih kepada Rama, karena melepaskan
dirinya dari kutukan itu. Ia menasehati Rama supaya meminta bantuan Sugriwa,
yang diusir abangnya Bali dari kerajaannya.
Akhirnya mereka sampai di satu gunung
tempat tinggal Sugriwa. Sugriwa membantu Rama mencari Sita. Bali segera
dikalahkan dan Sugriwa kembali menjadi raja kera. Segala kera dikumpulkan dan
diminta mencari Sita keempat penjuru angin.
Hanumanlah kera yang ternama. Ia
sebenarnya anak dewa angin yang paling tangkas. Sesudah Rawana pergi, Hanuman
menghampiri Sita. Sita hanya percaya kepada Hanuman. Sesudah Hanuman
menunjukkan cincin Rama kepadanya. Sungguhpun begitu, ia tidak mau dijamah oleh
lelaki lain daripada Rama. Sebaliknya, ia memberikan cincinya untuk disampaikan
kepada Rama.
Berita Rama sedang bersiap-siap hendak
menyerang Langka akhirnya sampai kepada Rawana. Dewa laut berkata bahwa ada seekor kera yaitu
Nala. Sekarang tentara Rama sudah mulai mengepung istana Rawana. Peperangan
yang hebat pun dimulai. Dalam peperangan itu, saudara Rawana, satu demi satu
gugur mrnjadi korban. Perkelahian Rama dan Rawana hebat sekali, sama hebatnya
seperti perkelahian dua ekor singa. Ia lalu memanah Rawana dengan panah
pemberian dewa Indera. Seketika itu juga Rawana gugur. Dunia damai kembali
dalam suasana kegembiraan, Ramapun kembali ke Ayodhya dan naik tahta menjadi
raja. Sita selamat ingin membuktikan bahwa Sita adalah perempuan yang setia
lagi suci. Rama menjadi raja selama seribu tahun. Banyak perbuatannya yang adil
dicatat dalam Ramayana. Tidak lama kemudian Sita melahirkan dua orang anak.
Pusa dan Lawa. Valmiki mengajar kedua anak Rama menyanyi bermacam-macam
nyanyian, termasuklah Ramayana.
Valmiki menerangkan bahwa Sita
sebenarnya tidak berdosa, ia tetap suci dan kedua anak yang menyanyikan
nyanyian Rama itu adalah anak Rama sendiri. Tapi ajal Sita sudah sampai: ia
muncul dari bumi dan ke bumi pula ia akan hilang. Rama, jangan bersedih hati,
karena ia sendiri adalah jelmaan Wisnu.
·
Cerita
Rama Di Luar India
Cerita
Rama juga sangat populer di luar India. Di Thailand, enam dari pada rajanya
bernama Rama dan raja juga dianggap titisan Wisnu. Ibu kota Thailand Ayuthia,
juga mengingatkan kita kepada Ayodhya yang disebut dalam Ramayana. Di Laos
cerita Rama diceritakan dalam Rama Jataka yang sudah dipengaruhi oleh Dasarata
Jataka. Rama Jataka agak aneh jalan ceritanya. Dalam cerita ini Rama dan Rawana
adalah saudara sepupu. Akhirnya Rama dan Rawana berdamai, dan Sita (di sini
bernama Cantha) diberikan kepada Rawana sebagai istri. Di Campa (Vietnam
Selatan sekarang), cerita Rama sudah menjadi semacam epos rakyat dan semua
peristiwa dianggap berlaku di Campa. Di Burma cerita Rama juga terkenal. Dan
akhirnya cerita Rama juga menjadi sumber wayang lakon di berbagai daerah di
Asia Tenggara, di Thailand, Laos dan juga di Indonesia.
·
Kedudukan
Rama di Asia Tenggara
Dalam
sastra di Asia Tenggara, kedudukan Rawana lebih diutamakan. Ramakirti, cerita Rama di Thailand,
mengisahkan bahwa Rawana betul-betul mencintai Sita. Karena cintanya kepada
Sita ia mengorbankan keluarga, kerajaan, dan kekayaannya, dan akhirnya,
nyawanya sendiri. Alangkah besarnya kekuasaan cinta. Dalam sastra melayu, kita
dapati ada cerita Rama yang mulai dengan kisah Rawana sampai ada cerita yang
berjudul Hikayat Maharaja Rawana. Dalam
Hikayat Sri Rama, Rama dikatakan
sebagai cicit dari nabi Adam yang terlalu kebal orangnya: segala senjata tidak
dapat melukai dia. Di samping itu, Rama juga digambarkan sebagai seorang anak
yang nakal miskin, hina dan tidak dapat menjaga istri sendiri yang cuma
seorang. Dia juga bukan anak raja berani, dia jatuh pingsan ketika mendengar
bahwa Sita sudah diculik. Dia jatuh pingsan lagi tatkala mendengar berita
bohong yang disebabkan Rawana, bahwa Sita sudah mati. Dia bahkan bersedia menjadi
hulubalang Rawana, jikalau Rawana tidak mengambil isterinya.
C.
Mahabharata
Inti
cerita Mahabharata ialah sejarah
bangsa bharata yang terdiri dari 24.000 seloka.Tetapi dengan peredaran
zaman,bermacam-macam cerita dongeng dimasukkan kedalamnya,misalnya dongeng
tentang Brahmana, Wisnu dan Siwa.Ia bukan epos biasa lagi,ia sudah menjadi buku
suci orang hindu,buku suci yang menerangkan cara hidup orang hindu,susunan
masyarakat dan politiknya. seorang sarjana Hindu berkata.”apa yang terdapat di
India,juga terdapat dalam Mahabharata.
Mahabharata juga
dianggap sebagai buku Rigveda yang
kelima yang boleh dibaca oleh semua orang.karena ini pula, banyak orang Hindu
yang tidak berpelajaran,juga mengetahui serba sedikit tentang kebudayaan diri
sendiri melalui Mahabharata.
Menurut
tradisi,Vyasa adalah penyair dan penyusun Mahabharata.sesudah
siap disusun.Mahabharata diajarkan kepada suka anak Vyasa sendiri dari
murid-muridnya.para sarjana membuat penyelidikan telah mengemukakan
bermacam-macam teori tentang Mahabharata.ia
menceritakan orang-orang yang sempurna dan peperangan yang banyak meminta
korban jiwa.
Mahabharata
juga pernah memberi ilham kepada penyair-penyair sansekerta.pada abad
ke-6,seorang penyair,bharavi,telah menyusun Kiratarjuna yang mengisahkan bagaimana
Arjuna pergi bertapa untuk memperoleh senjata ajaib.Mahabharata juga pernah disadur
kedalam bahasa daerah di Indiapada abad ke-10,Mahabharata telah disadur
ke dalam bahasa Tamildan diberi judul Perundevanar.pada
masa ini,hampir semua bahasa di India
mempunyai versi Mahabharata sendiri.
·
Ringkasan
Mahabharata
Syantanu
raja Hastinapur(Delhi) pergi berburu dan menemui seorang perempuan yang cantik
sekali ditepi sungai.Perempuan itu dikawininya.Dia juga berjanji tidak akan
menegur barang perbuatan istrinya.Hatta perempuan itu pun beranaklah tetapi
anaknya itu satu persatu dihanyutkannya kedalam sungai.Ketika dia hendak
menghanyutkan anaknya kedelapan,Syantanu melarangnya.
Selang
beberapa lamanya, Syantanu pergi berburu pula.Kali ini dia bertemu dengan Satyawati,anak
perempuan seorang raja pengali.Raja pengali itu siap memberikan anak
perempuannya kepada Syantan.Jika Syantanu berkaul akan merajakan anak Satyawati
dalam negeri kelak.
Hatta Syantanu pun mangkatlah dan
disusul oleh anaknya tidak lama kemudian.Anaknya meninggalkan dua orang
istri,yaitu Ambika dan Ambalika.Mereka berdua disuruh untuk mengadakan hubungan
dengan pertapa yang bernama Vyasa yang janggutnya panjang sampai ketanah dan
badanya busuk pula.Anaknya yang dilahirkan itu bernama Pandu,menjadi
besar.Sesudah besar,Pandu ditabalkan menjadi seorang raja dalam negeri karena
abangnya Dhresarasta buta.
Pandu
mempunyai dua orang istri,Kunti dan Madri namanya.Karena sudah disumpah oleh
seorang pertapa,Pandu tidak boleh menjamah istinya.Kunti menerima karunia dari
Tuhan.Ia dikarunia seorang anak yang bernama Yudhistira (Dharmawangsa).Dengan
memuji dewa Vayu(angin) dia memperanakan
Bima,kemudian lahirlah Arjuna.Dan karunia itu pun dipinjamkan kepada Madri,Madri
memuji dewa kembar sehingga lahirlah seorang anak kembar yang diberi nama
Sakula dan Sadewa.
Pada
suatu hari,Pandu pergi berkelahi dihutan rimba.Sesudah kemangkatan Pandu,
Dhretarasta lalu naik kerajaan Dhretarasta mencari seorang guru yang mahir
untuk mendidik anaknya (para Kaurawa) bersama-sama dengan putera adiknya yaitu
para Pandawa Guru yang dicari untuk mengajar para putera raja ialah Drona, anak
Bhradwaja.
Pada
suatu hari, Drona mengumpulkan para putera raja dan meminta supaya mereka sudi
mengerjakan suatu perkara untuknya sesudah mereka pandai bermain senjata. Tak
seorang pun menjawab. Hanya anak Pandawa yang ketiga, Arjuna, menyatakan
kesediaan untuk menolong gurunya. Karena itu pula, Arjuna menjadi murid
kesayangan Drona.
Arjuna
menjadi pemanah yang pandai sekali. Tapi pada suatu hari ia bertemu dengan
seorang pemuda yang lebih pandai memanah daripadanya. Pemuda yang dimaksud
ialah Eklawya. Arjuna lalu memberitahu Drona tentang hal ini. Drona bertanya
kepada Eklawya siapa gurunya. Eklawya menunjukkan patung Drona yang ada di
situ. Tahulah Drona apa yang sudah terjadi dan meminta upah dari Eklawya.
Upahnya ialah ibu ari Eklawya. Sesudah memberikan ibu jarinya. Eklawya
kehilangan kekuatannya. Arjuna pun menjadi pemanah yang tak ada tolok
bandingnya pada zaman itu.
Pada
suatu hari, suatu sayembara diadakan oleh raja Dhretarastra. Para Pandawa,
Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, sudah berkumpul di medan
sayembara. Demikian juga para Kaurawa di bawah pimpinan Duryodhana. Pertarungan
Bhima dan Duryodahana sedemikian hebatnya, sehingga Drona merasa perlu
menghentikan permainan Bhima dan Duryodhana, takut kalau-kalau terjadi
perkelahian yang sungguh-sungguh. Kemudian Arjuna keluar mempertunjukkan
kepandaiannya bermain berbagai senjata.
Sekarang
Drona mau meminta ganjaran dari para muridnya tangkaplah Drupada, raja Pancala.
Datang menghadap saya. Dhretarastra berpikir akan mengangkat Yudhistira menjadi
raja. Karena takhta kerajaan memang milik ayah Yudhistira. Dalam pada itu, nama
pandawa juga sudah terkenal dimana-mana karena keperwiraan mereka. Duryodhana,
anak Dhretarasta, sangat dengki kepada para Pandawa.
Raja
Pancala, Drupada, mengadakan sayembara untuk memilih menantu. Barang siapa yang
dapat melentur panah pusakanya, akan dikawinkan dengan Drupadi, anaknya yang
rupawan. Semua raja yang besar-besar hadir dalam sayembara itu. Demikian juga
dengan para Pandawa. Tidak seorang raja pun yang dapat melenturkan panah
tersebut.Raja Pancala,Drupada,mengadakan sayembara untuk memilih menantu.
Dihutan
belantara para Pandawa membangun sebuah istana yang indah.Hutan belantara
menjadi negeri yang kaya raya.Semua raja yang besar-besar diundang keibukota
oleh para Pandawa.Duryodhana juga ikut hadir dalampertabalan Yudhistira.
Masa duabelas tahun dalam hutan adalah
masa yang penuh dengan kejadian.Krisna datang mengunjungi dan menghibur hati
mereka yang duka.Seorang Risyi,Vyasa namanya datang menasihati Arjuna supaya
bertapa.Arjuna mengikuti nasihatnya dan bertemu dengan seorang pemburu yang
tidak lain tidak bukan jelmaan dewa Siwa.Dua belas tahun masa pembuangan sudah
dilalui.Arjuna agak bimbang menghadapi peperangan ini karena musuh yang
dihadapinya bukan orang lain melainkan saudara,kawan,dan gurunya sendiri.Krisna
yang bijaksana dapat menghibur hati Arjuna dalam suatu percakapan yang terkenal
yaitu Bhagavadgita.
Ketika peperangan dimulai,Bhisma menjadi
panglima Kaurawa.Selama sembilan hari Kaurawa mempertahankan kaumnya.Kalau
Bhisma tidak mati,tidak ada harapan menang bagi para Pandawa.Tetapi Arjuna
masih ragu-ragu untuk memerangi Bhisma.Akhirnya para Pandawa menggunkan tipu
muslimat:ketika seekor gajah yang bernama Aswathaman dibunuh para pandawa
bersorak. ”Aswathaman anak Dhora sudah terbunuh.Pandawa sudah menang
perang.Yudhistira ditabalkan menjadi raja memerintah Hastinapura.
Sesudah beberapa lama,para Pandawa
mendengar bahwa Dheretarasta mangkat dihutan.Para Pandawa tahu bahwa ajal
mereka sudah sampai dan mereka pun pergi mengembara.Para Pandawa satu persatu
mati ditengah jalan.Hanyalah Yudhistira yang selamat ke kayangan.Di kayangan
dia mendapat ujian dari para dewa.Tidak lama kemudian,adik-adiknya dan Draupadi
juga sampai dikayangan.
Pariksit,cucu Arjuna
menjadi raja di Hastinapura.Dan tidak lama kemudia dia di gigit mati oleh
ular.Anaknya mengadakan korban ular untuk membunuh semua ular.Pada masa upacara
berlangsung datanglah Vyasa,penyair yang terkenal itu,dan menyanyikan riwayat
nenek moyangnya.
D. Kilas Singkat Sejarah Sastra Melayu
Kebudayaan Melayu, sebagaimana
kebudayaan Jawa, memperoleh pengaruh yang sangat kuat dari India kira-kira
semenjak abad ke-5 M hingga abad ke-14 M. Namun pencapaian keduanya cenderung
berbeda. Kebudayaan Jawa telah menorehkan prestasi menonjol dalam bidang seni
ukir seperti candi, patung dan relief, sedangkan pencapaian terbesar kebudayaan
Melayu terletak di bidang kesusasteraan.
Braginsky dalam bukunya Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam abad 7-19, terjemahan Hersri Setiawan, menyatakan bahwa dasar tradisi kebudayaan Melayu adalah sastra. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa kebudayaan Melayu tidak menghasilkan pencapaian di bidang-bidang lainnya. Dasar tradisi Melayu ini (sastra, pen), baru ada semenjak abad ke-16, tertera pada sebuah manuskrip dengan aksara Jawi dan menggunakan bahasa Melayu.
Ketika orang Melayu mulai mengenal agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India, mereka turut mengadopsi bahasa dan aksara yang digunakan di dalam dua agama tersebut. Lantas mereka mengintegrasikannya dengan bahasa asli, dan mulai menciptakan karya-karya tertulis berdasarkan kaidah-kaidah yang terserap. Tujuan mulanya, tentu agar perasaan dan pikiran mereka yang tercurahkan dalam karya bahasa,memiliki kemungkinan lebih besar untuk kekal.
Namun,keberadaan aksara, alat tulis serta kemahiran menulis saja tidak cukup. Karya-karya sastra tertulis yang muncul pada masa integrasi Melayu dengan Hindu-Buddha sangat sukar ditemukan, karena hampir tidak ada satu pun yan selamat, kecuali karya-karya yang dituliskan pada material yang tidak rentan dengan perubahan cuaca, seperti pada prasasti atau nisan. Bahkan menurut penulis, belum diketemukan karya sastra Melayu pada kedua artefak itu.
Bisa jadi, melenyapnya karya-karya sastra dari masa yang cukup jauh ini, sanggup dikorelasikan dengan hakikat sastra: baik dalam bentuk maupun isinya, pasti mengandung nilai-nilai tertentu yang dianut, diyakini dan diamalkan oleh masyarakat atau anggota masyarakat yang menciptakannya. Karya-karya sastra pada masa pengaruh India tentu mengandung nilai-nilai keagamaan dan norma-norma fundamental Hindu-Buddha yang sangat lekat, sehingga ketika pengaruh Islam muncul, nilai-nilai tersebut musti disisihkan dan digantikan oleh nilai-nilai Islam. Meski, Api Sejarah milik Ahmad Mansur Suryanegara, sedikit kontroversial dengan data historik yang umum ditemukan, mengatakan bahwa Islam sudah memasuki Indonesia jauh sebelum Hindu-Buddha.
Harus ditekankan pula bahwa agama Hindu-Buddha memmpunyai watak elitis, yakni pendalaman pengetahuan tentang kedua agama tersebut hanya mampu dilakukan oleh kalangan tertentu, misalnya kelas Brahmana atau Bhiksu (Marwati Djoened Pusponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Balai Pustaka Pendidikan dan Kebudayaan). Karakter elitis ini membuat Islam yang tidak membedakan kasta (egaliter, pen) memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin mendalaminya dan dapat diterima, juga tersebar luas di kalangan orang Melayu. Dengan karakter egaliter pula, aksara Jawi yang diperkenalakan oleh kebudayaan Islam/Arab-Persia, mendapatkan dukungan penuh ketika mendesak karya-karya dan aksara sebelumnya yang masih mengandung bentuk maupun nilai-nilai budaya yang elitis.
Braginsky dalam bukunya Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam abad 7-19, terjemahan Hersri Setiawan, menyatakan bahwa dasar tradisi kebudayaan Melayu adalah sastra. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa kebudayaan Melayu tidak menghasilkan pencapaian di bidang-bidang lainnya. Dasar tradisi Melayu ini (sastra, pen), baru ada semenjak abad ke-16, tertera pada sebuah manuskrip dengan aksara Jawi dan menggunakan bahasa Melayu.
Ketika orang Melayu mulai mengenal agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India, mereka turut mengadopsi bahasa dan aksara yang digunakan di dalam dua agama tersebut. Lantas mereka mengintegrasikannya dengan bahasa asli, dan mulai menciptakan karya-karya tertulis berdasarkan kaidah-kaidah yang terserap. Tujuan mulanya, tentu agar perasaan dan pikiran mereka yang tercurahkan dalam karya bahasa,memiliki kemungkinan lebih besar untuk kekal.
Namun,keberadaan aksara, alat tulis serta kemahiran menulis saja tidak cukup. Karya-karya sastra tertulis yang muncul pada masa integrasi Melayu dengan Hindu-Buddha sangat sukar ditemukan, karena hampir tidak ada satu pun yan selamat, kecuali karya-karya yang dituliskan pada material yang tidak rentan dengan perubahan cuaca, seperti pada prasasti atau nisan. Bahkan menurut penulis, belum diketemukan karya sastra Melayu pada kedua artefak itu.
Bisa jadi, melenyapnya karya-karya sastra dari masa yang cukup jauh ini, sanggup dikorelasikan dengan hakikat sastra: baik dalam bentuk maupun isinya, pasti mengandung nilai-nilai tertentu yang dianut, diyakini dan diamalkan oleh masyarakat atau anggota masyarakat yang menciptakannya. Karya-karya sastra pada masa pengaruh India tentu mengandung nilai-nilai keagamaan dan norma-norma fundamental Hindu-Buddha yang sangat lekat, sehingga ketika pengaruh Islam muncul, nilai-nilai tersebut musti disisihkan dan digantikan oleh nilai-nilai Islam. Meski, Api Sejarah milik Ahmad Mansur Suryanegara, sedikit kontroversial dengan data historik yang umum ditemukan, mengatakan bahwa Islam sudah memasuki Indonesia jauh sebelum Hindu-Buddha.
Harus ditekankan pula bahwa agama Hindu-Buddha memmpunyai watak elitis, yakni pendalaman pengetahuan tentang kedua agama tersebut hanya mampu dilakukan oleh kalangan tertentu, misalnya kelas Brahmana atau Bhiksu (Marwati Djoened Pusponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Balai Pustaka Pendidikan dan Kebudayaan). Karakter elitis ini membuat Islam yang tidak membedakan kasta (egaliter, pen) memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin mendalaminya dan dapat diterima, juga tersebar luas di kalangan orang Melayu. Dengan karakter egaliter pula, aksara Jawi yang diperkenalakan oleh kebudayaan Islam/Arab-Persia, mendapatkan dukungan penuh ketika mendesak karya-karya dan aksara sebelumnya yang masih mengandung bentuk maupun nilai-nilai budaya yang elitis.
E.
Pengaruh Hindu
dalam Kesusastraan Melayu
Pengaruh
Hindu Buddha di Nusantara sudah sejak lama. Menurut J.C. Leur (Yock Fang:
1991:50) yang menyebarkan agama Hindu di MelayuadalahparaBrahmana.
Merekadiundangoleh raja untukmeresmikan yang menjadiksatria.
Kemudiandenganmunculnya agama Buddha di India makapengaruh India
terhadapbangsaMelayusemakinbesar. Apalagi agama Buddhatidakmengenalkasta,
sehinggamudah beradaptasi dengan masyarakat Melayu.
F.
Pengaruh Hindu-Buddha dalam Bidang Kesusastraan
Dari
India, masyarakat Indonesia mengenal sistem tulis. Karya-karya tulis yang
pertama ada di Indonesia ditulis pada batu (prasasti) yang memuat peristiwa
penting seputar raja atau kerajaan tertentu. Pada masa berikutnya penulisan
dilakukan di atas daun lontar (Latin: Borassus flabellifer), batang
bambu, lempengan perunggu, daun nifah (Latin: Nifa frutican), dan kulit
kayu, karena bahan-bahan tersebut lebih lunak daripada batu, lebih mudah
dijinjing dan bisa dibawa ke mana-mana, dan lebih tahan lama. Pada masa Islam,
penulisan dilakukan di atas dluwang (terbuat dari kulit kayu pohon mulberry),
kertas, logam mulia, kayu, serta kain.
Penulisan pada bahan-bahan yang
lebih lunak memungkinkan para penulis lebih leluasa dalam bekarya. Awalnya
mereka menulis karya-karya sastra dari India, seperti Mahabharata dan Ramayana.
Setelah menyalin dan menerjemahkan karya-karya tersebut,
mereka lalu mulai menggubah cerita yang asli ke dalam sebuah kitab. Jadilah
karya sastra yang indah dalam segi bahasa, meski sifat-sifat kesejarahannya
samar.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Periode
Hindu Buddha dipengaruhi sangat kuat dari kebudayaan India kira-kira semenjak
abad ke-5 M hingga abad ke-14 M. Namun pencapaian keduanya cenderung
berbeda.Ketika orang Melayu mulai mengenal agama Hindu dan Buddha yang berasal
dari India, mereka turut mengadopsi bahasa dan aksara yang digunakan di dalam
dua agama tersebut.Karya-karya sastra pada masa pengaruh India tentu mengandung
nilai-nilai keagamaan dan norma-norma fundamental Hindu-Buddha yang sangat
lekat, sehingga ketika pengaruh Islam muncul, nilai-nilai tersebut musti
disisihkan dan digantikan oleh nilai-nilai Islam.
Salah
satu karya yang populer pada masa periode Hindu Buddha yaitu Ramayana dan
Mahabharata.Kemudian dengan munculnya agama Buddha
di India maka pengaruh India terhadap bangsa Melayu semakin besar. Apalagi
agama Buddha tidak mengenal kasta, sehingga mudah beradaptasi dengan masyarakat
Melayu.
B.
Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga
dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di
sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami.
Apabila ada terdapat kesalahan mohon
dapat memaafkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput
dari salah khilaf, Alfa dan lupa.
Komentar
Posting Komentar