Makalah : Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Berbicara


BERBICARA
PENJELASAN TENTANG
“FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS BERBICARA” 

Di susun oleh ;

       Gita Indah Safitri
       Puspa Indriana




PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WILALODRA
Jalan Ir. H. Juanda KM 3 Singaraja Indramayu 45213





Kata Pengantar

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Berbicara.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas berbicara, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Wiralodra.


Indramayu , 04 November 2014


Penyusun












BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Dalam era globalisasi sekarang ini semakin lama semakin kita rasakan pentingnya berkomunikasi, baik antar anggota masyarakat maupun antar kelompok masyarakat.
Alat komunikasi yang paling baik digunakan adalah bahasa. Dengan bahasa manusia sebagai makhluk sosial dapat  berhubungan satu sama lain secara efektif. Dengan bahasa kita dapat menyatakan perasaan, pendapat, bahkan, dengan bahasa kita dapat berpikir dan bernalar. Oleh sebab itu, agar komunikasi berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan salah paham, kita perlu terampil berbahasa baik lisan maupun tulis. Suatu komunikasi dikatakan berhasil apabila pesan yang disampaikan pembicara dapat dipahami dengan baik oleh penyimak atau pembaca sesuai dengan maksud pembicara atau penulis tersebut.
Berbicara adalah salah satu cara berkomunikasi yang sering digunakan. Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Berbicara identik dengan penggunaan bahasa secara lisan. Penggunaan bahasa secara lisan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Dalam berbicara kadang seseorang dituntut dapat berbicara dengan efektif. Efektivitas berbicara pada setiap orang ini bergantung pada berbagai faktor. Faktor-faktor itu dapat berupa Faktor Kebahasaan dan Faktor Nonkebahasaan. Faktor-faktor tersebut akan dibahas lebih rinci dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi  keefektifan berbicara?
2.      Apa faktor-faktor kebahasaan?
3.      Apa faktor-faktor nonkebahasan?









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Faktor-faktor YANG MEMPENGARUHI KEEFEKTIFAN BERBICARA

1.      Faktor-Faktor Kebahasaan Sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara

a)      Ketepatan ucapan.
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendengar. Sudah tentu pola ucapan dan artikulasi yang digunakan tidak sama. Masing-masing mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang dipakai berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaraan, perasaan, dan sasaran. Akan tetapi, kalau perbedaan atau perubahan itu terlalu mencolok, sehingga menjadi suatu penyimpangan, maka keefektifan komunikasi akan terganggu.

b)      Penempatan tekanan, nada, dan durasi yang sesuai.
Kesesuaian tekanan, nada, dan durasi akan merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara. Bahkan kadang-kadang merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada, dan durasi yang sesuai, akan menyebabkan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaian datar saja, dapat dipastikan akan menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.

      c)      Pilihan kata (Diksi).                       
Pilihan kata hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan akan lebih paham, jika kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang sudah dikenal oleh pendengar. Misalnya, kata-kata populer tentu akan lebih efektif daripada kata-kata yang tidak populer, dan kata-kata yang berasal dari bahasa asing.

Kata-kata yang belum dikenal memang membangkitkan rasa ingin tahu, namun akan menghambat kelancaran komunikasi. Selain itu, hendaknya dipilih kata-kata yang konkret sehingga mudah dipahami pendengar. Kata-kata konkret menunjukkan aktivitas akan lebih mudah dipahami pembicara . Namun, pilihan kata itu tentu harus kita sesuiakan dengan pokok pembicaraan dan dengan siapa berbicara (pendengar).

Diksi adalah kemampuan pembicara atau penulis dalam memilih kata-kata untuk menyusunnya menjadi rangkaian kelimat yang sesuai dengan keselarasan dari segi konteks.

Orang yang memiliki kemampuan memilih kata adalah:
1.       memiliki kosakata      
2.       memahami makna kata tersebut,
3.       memahami cara pembentukannya
4.       memahami hubungan-hubungannya,
5.      memahami cara merangkaikan kata menjadi kalimat yang memenuhi kaidah struktural dan logis.

Berikut beberapa cara untuk memilih kata, yaitu melihatnya dari segi
1.   bentuk kata
2.   baku tidaknya kata
3.   makna kata
4.   konkret atau abstraknya kata
5.   keumuman dan kekhususan kata
6.   menggunakan gaya bahasa/majas
7.   idiom.



d) Ketepatan sasaran pembicaraan.
Hal ini menyangkut pemakaian kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya. Susunan penuturan kalimat ini sangat besar pengaruhnya terhadap keefektifan penyampaian. Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran. Sehingga mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan, atau menimbulkan akibat. Kalimat efektif memiliki ciri utuh, berpautan, pemusatan perhatian, dan kehematan. Keutuhan kalimat terlihat pada lengkap tidaknya unsur-unsur kalimat. Pertautan kalimat terlihat pada kompak tidaknya hubungan pertalian antara unsur dalam kalimat, hubungan tersebut harus jelas dan logis. Pemusatan perhatian kalimat ditandai dengan adanya penempatan bagian kalimat yang penting pada awal atau akhir kalimat.



2.       Faktor-Faktor Nonkebahasaan Sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara

Keefektifan berbicara tidak hanya didukung oleh faktor kebahasaan seperti yang sudah diuraikan di atas, tetapi juga ditentukan oleh faktor nonkebahasaan. Bahkan dalam pembicaraan formal, faktor nonkebahasaan ini sangat mempengaruhi keefektifan berbicara. Dalam proses belajar-mengajar berbicara, sebaliknya faktor nonkebahasaan ini ditanamkan terlebih dahulu, Ketika berbicara di depan umum, mahasiswa juga membutuhkan ilmu retorika untuk menunjang kualitas pembicaraannya. Selain itu, digunakan untuk meyakinkan pendengar akan kebenaran gagasan/topik yang dibicarakan. Namun pada kenyataannya, tidak banyak mahasiswa yang mampu menggunakan dengan baik dan efektif. Oleh karena itu, perlu adanya bahasa yang digunakan mahasiswa dalam berkomunikasi atau berbicara di depan umum. dapat dimulai dari segi penggunaan bahasa yang digunakan dalam berbicara. Kemudian selanjutnya pada ilmu retorika yang harus digunakan, yaitu metode dan etika retorika.

Dengan merekonstruksi bahasa dan retorika, diharapkan kemampuan berbicara mahasiswa akan termasuk dalam kategori “mahasiswa yang berbicara secara intelektual”. sehingga kalau faktor nonkebahasaan sudah dikuasai akan memudahkan penerapan faktor kebahasaan.
     Yang temasuk faktor nonkebahasaan ialah :
     1.   Sikap pembicara, seorang pembicara dituntut memiliki sikap positif ketika berbicara maupun menunjukkan otoritas dan integritas pribadinya, tenang dan bersemangat dalam berbicara.
     2.   Pandangan mata, seorang pembicara dituntut mampu mengarahkan pandangan matanya kepada semua yang hadir agar para pendengar merasa terlihat dalam pembicaraan. Pembicara harus menghindari pandangan mata yang tidak kondusif, misalnya melihat ke atas, ke samping, atau menunduk.
     3.   Keterbukaan, seorang pembicara dituntut memiliki sikap terbuka, jujur dalam mengemukakan pendapat, pikiran, perasaan, atau gagasannya dan bersedia menerima kritikan dan mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru atau tidak dilandasi argumentasi yang kuat
    
     4.   Gerak-gerik dan mimik yang tepat, seorang pembicara dituntut mampu mengoptimalkan penggunaan gerak-gerik anggota tubuh dan ekspresi wajah untuk mendukung penyampaian gagasan. Untuk itu perlu dihindari penggunaan gerak-gerik yang tidak ajeg, berlebihan, dan bertentangan dengan makna kata yang digunakan.
     5.   Kenyaringan suara, seorang pembicara dituntut mampu memproduksi suara yang nyaring sesuai dengan tempat, situasi, jumlah pendengar, dan kondisi akustik. Kenyaringan yang terlalu tinggi akan menimbulkan rasa gerah dan berisik sedangkan kenyaringan yang terlalu rendah akan menimbulkan kesan melempem, lesu dan tanpa gairah
     6.    Kelancaran, seorang pembicara dituntut mampu menyampaikan gagasannya dengan lancar. Kelancaran berbicara akan mempermudah pendengar menangkap keutuhan isi paparan yang disampaikan. Untuk itu perlu menghindari bunyi-bunyi penyela seperti em, ee, dll. Kelancaran tidak berarti pembicara harus berbicara dengan cepat sehingga membuat pendengar sulit memahami apa yang diuraikannya
     7.   Penguasaan topik, seorang pembicara dituntut menguasai topik yang dibicarakan. Kunci untuk menguasai topik adalah persiapan yang matang, penguasaan materi yang baik, dan meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri. dan Penalaran, seorang pembicara dituntut mampu menunjukkan penalaran yang baik dalam menata gagasannya sehingga pendengar akan mudah memahami dan menyimpulkan apa yang disampaikannya.

3.Faktor Penghambat Keefektifan Berbicara

Faktor penghambat keefektifan berbicara terdiri atas dua macam, yaitu hambatan internal dan eksternal. Hambatan internal adalah hambatan yang berasal dari dalam diri pembicara, sedangkan hambatan eksternal adalah hambatan yang berasal dari luar pembicara (Taryono, 1999:68). Adapun hambatan internal yang dimaksud terdiri atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
  1. Hambatan yang bersifat fisik, antara lain meliputi alat ucap yang sudah tidak sempurna lagi, kondisi fisik yang kurang segar, dan kesalahan dalam mengambil postur dan posisi tubuh
  2. Hambatan yang bersifat mental atau psikis, terdiri atas dua bagian, yaitu: hambatan mental yang temporer dan hambatan mental yang laten. Hambatan mental yang temporer misalnya rasa malu, rasa takut, dan rasa ragu atau grogi. Hambatan mental yang bersifat laten ada empat jenis yaitu tipe penggelisah, tipe ehm vokalis, tipe penggumam, dan tipe tuna gairah;
  3. Hambatan lain-lain meliputi
            a.       kurangnya penguasaan kaidah yaitu tata bunyi, tata bentuk, tata kalimat;
            b.      kurangnya pengalaman dalam hal berbicara;
            c.       kurangnya perhatian pada tugas yang diemban di bidang berbicara; dan
            d.      adanya kebiasaan yang kurang baik (Taryono, 1999:68-72).
           
      Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berbicara agar berbicara kita efektif antara lain sebagai berikut :
       
        1.         Cerdas Menguasai Suasana
         Orang belajar menulis semestinya terlebih dahulu mempelajari hal-hal yang tidak akan dia tulis. Begitu juga orang belajar berbicara semestinya terlebih dahulu mempelajari kapan seharusnya tidak berbicara. Kita tentu pernah memdengar pepatah “bicara itu perak, diam itu emas”, entah perkataan itu benar atau tidak akan tetapi sebelum membahasa bagaimana  seharusnya berbicara akan lebih baik kalau kita terlebih dulu memahami bagaimana seharusnya tidak berbicara kita diam bukan berarti tidak bersuara. Mungkin kita sedang mempraktekkan ilmu padi semakin merunduk semakin berisi. Karena didalam berbicara kita harus tahu berbicara dengan siapa dan di mana kita berbicara. Dengan demikian kita bisa menguasai suasana. Sering juga kita dengar orang berkata banyak bicara banyak salah, mengapa demikian karena tidak bisa menguasai suasana.
       
        2.  Buat Pembicaraan atau Percakapan lebih hidup  dan bisa dinikmati oleh semua yang terlibat, adapun caranya sebagai berikut :
     
      a.       Pilih topik yang dapat melibatkan semua orang sebelum berbicara tentu terlebih dahulu memikirkan apa yang akan kita bicarakan. Dalam hal itu kita tidak perlu memilih topic-topik yang berat misalnya tentang politik, bila orang-orang yang kita ajak bicara tidak banyak suka politik.Bila kita lakukan maka kemungkinana besar orang-orang yang kita ajak bicara akan tutup mulut dan secara otomatis pembicaraan kita akan mati.
      b.      Meminta pendapat, kita akan dikenang sebagai pemicara yang baik jika kita meminta pendapat dari orang sekitar yang akan kita ajak berbicara. Dengan demikian pembicaraan kita tidak bisa timbal balik
      c.       Bantulah orang yang paling pemalu dalam kelompok, sebagai pembicara yang baik kita perlu mengajak orang-orang disekitar  kita atau orang-orang yang kita ajak bicara untuk ikut serta dalam pembicaraan. Khususnya mereka yang tampaknya enggan untuk bergabung dan dengan berbagai macam cara misanya memacing orang yang kurang terlibat itu dengan topic yang anda tahu akan dia nikmati.
      d.      Jangan memonopoli percakapan atau pembicaraan, dalam berbicara kita tidak perlu berbicara terus menerus seperti seorang monolog atau interrogator, walaupun demikian juga jangan terlalu sedikit berbicara. Bila kita terlalu pelit berbicara, orang-orang akan menganggap kita tidak cukup pandai atau tidak ramah.
      e.       Memancing pendapat, pertanyaan-pertanayaan yang dapat memancing pendapat sangat efektif untuk memulai percakapan atau pembicaraan dalam lingkungan sosial atau untuk memecahkan keheningan misalnya kita dapat menanyakan hal yang sedang menjadi topic hangat dan yang akan ada dibenarkan orang-orang saat itu.


BAB III
PENUTUP

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keefektifan dalam berbicara, baik itu faktor penunjang maupun penghambat. Faktor penunjang yang dimaksud terbagi menjadi dua bagian yaitu faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan terdiri atas Ketepatan ucapan, Penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai, Pilihan kata (Diksi), dan Ketepatan sasaran pembicaraan. Adapun factor nonkebahasaan adalah Sikap pembicara, Pandangan mata, Keterbukaan, Gerak-gerik dan mimik yang tepat, Kenyaringan suara, Kelancaran, dan Penguasaan topic. Di samping factor penunjang tersebut, terdapat beberapa factor penghambat. Faktor penghambat keefektifan berbicara terdiri atas dua macam, yaitu hambatan internal dan eksternal. Hambatan internal adalah hambatan yang berasal dari dalam diri pembicara, sedangkan hambatan eksternal adalah hambatan yang berasal dari luar pembicara.



DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, H.G. 1981. “Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa”. Bandung: Angkasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Sastra Pada Masa Hindu - Budha

Sejarah Desa Kecamatan Indramayu - Kabupaten Indramayu